K. AHMAD BASYIR KHOBIRON
Merupakan pendiri pertama LPI Arrahmah, yang diresmikan oleh Pemerintah sejak thun 1998.
Gedung MI dan MTs. AR-RAHMAH PRAGAAN
Berdiri sejak tahun 1998
Membentuk Karekteristik Siswa
Dengan memanfaatkan sampah dalam meningkatkan kreatifitas siswa
Membentuk karakterisktik Nasionalis
Dengan Ikut Memeriahkah HUT ke-68 Republik Indonesia
Persipan Siswa dalam Menghadapi UN
Menjelang ujian nasional, para siswa/i SMA mengikuti kegiatan dzikir dan doa bersama
Sabtu, 31 Januari 2015
Cerdas Cermat Kecamatan Pragaan
Juara 1 Lomba cerdas cermat se kecamatan pragaan yang di selenggarakan oleh pengurus cabang Nahdhatul Ulama Pragaan
Ektrakurikuler
Ektrakurikuler
Kegiatan ekstrakurikuler merupakan salah satu alat pengenalan siswa pada hubungan sosial. Di dalamnya terdapat pendidikan pengenalan diri dan pengembangan kemampuan selain pemahaman materi pelajaran.
Berangkat dari pemikiran tersebut, di SMK Negeri 1 Ciamis diselenggarakan berbagai kegiatan ekstrakurikuler.
Selain OSIS sebagai induk kegiatan ektrakurikuler di sekolah, kegiatan ektrakurikuler lainnya adalah:
- Pramuka
- Paskibra
- Palang Merah Remaja (PMR)
- Patroli Keamanan Sekolah (PKS)
- Pecinta Alam (PA)
- Olahraga (Bola Voli, Bola Basket, Karate, Tenis Meja, Tenis Lapangan)
- Kerohanian / IRMA (Ikatan Remaja Mesjid Al-Forqon), dan
- Koperasi Sekolah (Kopsis)
STRUKTUR OSIS
OSIS MA AR-RAHMAH PRAGAAN
OSIS (kepanjangannya adalah Organisasi
Siswa Intra Sekolah) adalah suatu organisasi yang berada di tingkat
sekolah di Indonesia yang dimulai dari Sekolah Menengah yaitu Sekolah
Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). OSIS diurus
dan dikelola oleh murid-murid yang terpilih untuk menjadi pengurus OSIS. Organisasi ini memiliki seorang pembimbing seorang guru yang
dipilih oleh pihak sekolah.
Anggota OSIS adalah seluruh siswa yang berada pada satu sekolah tempat OSIS itu berada. Seluruh anggota OSIS berhak untuk memilih calonnya untuk kemudian menjadi pengurus OSIS.
Anggota OSIS adalah seluruh siswa yang berada pada satu sekolah tempat OSIS itu berada. Seluruh anggota OSIS berhak untuk memilih calonnya untuk kemudian menjadi pengurus OSIS.
STRUKTUR KEPENGURUSAN OSIS MA AR-RAHMAH PRAGAAN 2014-2015
Ketua OSIS : Gia Haryza
Wakil Ketua OSIS 1 : M. Isyraqi El-hakim
Wakil Ketua OSIS 2 : Yunan Ahmad Taufik
Sekretaris Umum : Hanifah
Sekretaris 1 : Ridho Agung Nugraha
Sekretaris 2 : Afriani Naidza Nurdianti
Bendahara Umum : Ginar Amalia Hidayati
Bendahara 1 : Ria Maria Nurhayati
Bendahara 2 : Nada Fathia Mutiara
Sie. Ketaqwaan Terhadap Tuhan YME
Ketua : Galih Ahmad Abdullah
Wakil : Syauqi Nur Alifan Zaelani
Anggota : Nilam Mustikaning Nagari - Faizah Aulia Rahmah
Sie. Wawasan Keilmuan
Ketua : Aulia Arip Rakhman
Wakil : Mohammad Gilang Santika
Anggota : Arie Permana Putra- Rivan Ardyanto Sutoyo - Nursyifa Kamilia
Sie. Wawasan Kebangsaan
Ketua : Egie Sofyan Nuddin
Wakil : Rashidah Noor Amalia
Anggota : Meliana Lestari - Fransiska Paulina Kaha
Sie. Kepribadian Budi Pekerti Luhur dan Kehidupan Berbangsa
Ketua : Muhamad Lukman Rusyana
Wakil : Denantia Puriandini Winaya
Anggota : Ambar Ratih Sahra - Maulana Rizky Putra
Sie. Keterampilan dan Kewirausahaan
Ketua : Iqbal Ramadhan Zahid
Wakil : Larasitha Nunis
Anggota : Sofie Tsaurah Islami - Fitrias Rahayu Ramdhani
Sie. Organisasi, Kepemimpinan, dan Demokrasi
Ketua : Freysha Intan Yulitasari
Wakil : Nugraha Yanureza R.
Anggota : Radithya Aldi Pradhana - Citra Riansyah
Sie. Apresiasi , Budaya , dan Daya Kreasi
Ketua : Aditya Purna Nugraha
Wakil : Syahdini Handiani
Anggota : Ratifika Dewi Irianto - Reynald Aditya Utomo
Sie. Kesehatan Jasmani
Ketua : Elmus Rahma
Wakil : Wiriadiningrat
Anggota : Tiara Pasca Noviera Robaeni - Lutfi Ahmad
Jumat, 30 Januari 2015
Kalender Pendidikan 2014-2015 Jatim
Kalender Pendidikan Tahun Pelajaran Tahun 2014/2015 jenjang
TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA dan yang sederajat. Hari efektif sekolah,
hari efektif fakultatif dan hari libur sekolah/madrasah, di Provinsi Jawa Timur
Tahun Pelajaran 2014/2015. berikut screenshot Kalender Pendidikan 2014-2015 selengkapnya bisa didownload di bawah ini.
Semoga Bermanfaat
Rabu, 28 Januari 2015
Politisasi Jilbab : Pelecehan Simbol Agama?
Jakarta – “Karena fashion (pakaian) merupakan cara yang
paling signifikan dalam mengkonstruksi realitas dan relasi sosial.”
Apa yang Anda pikirkan saat melihat wanita mengenakan
jilbab/hijab/kerudung? Hijab/jilbab sebagai sebuah identitas keagamaan yang
diikuti pula oleh serangkaian konsekuensi mulai dari keyakinan hati, tutur
hingga laku. Ada fenomena luar biasa peragaan fashion theologis ini (baca :
hijab) oleh orang-orang yang terjerat kasus hukum. Sebut saja Wa Ode, Neneng
Sri Wahyuni, Nunun Nurbaiti, Angelina Sondakh, sopir maut Apriyani, Maharani,
Dipta Anindita, dan sederet nama-nama lainnya yang semakin menjadi “juru bicara”
dari fashion theologis ini.
Sebagai umat Islam, sangat bersyukur sekali semakin
maraknya perempuan-perempuan berjilbab dengan segala perbedaan prosesnya. Yang
menyesakkan saat hijab terhempas dengan kehilangan essensi dari hijab itu,
serta konsekuensi integralitas dalam diri penggunanya. Hijab sebagai fashion
theologis adalah media komunikasi publik hasil metafora dari sistem nilai yang
ada. Menurut Thomas Carlyle, pakaian adalah perlambang jiwa. Fashion
dimetaforakan sebagai kulit sosial yang membawa pesan dan gaya hidup komunitas
tertentu yang merupakan bagian dari kehidupan sosial.
Hijab sebagai perlambang jiwa dan sebuah metafora dari
nilai membawa kita pada tarik-menarik persepsi yang berbeda dalam memaknainya.
Karena kulit sosial itu sebenarnya menampakkan sesuatu yang tidak mampu
disampaikan secara harfiah baik oleh individu maupun kelompoknya. Ada banyak
unsur yang berkecamuk dalam beragam persepsi mulai dari dinamika psikologis
individu, menarik simpati publik, hingga dipolitisir menjadi konspirasi
prejudice simbol-simbol agama. Segala sesuatu yang telah ada di pikiran kita,
yang kita inginkan, kehendaki, sangka, dan butuhkan serta pengalaman masa lalu
menentukan persepsi (wilcox, 2006 : 107). Bisa jadi apatisme simbol-simbol
agama tersebut dikarenakan ada harapan perseptual yang tak terpenuhi oleh obyek
visual.
Hijab dalam Konflik Psikologis
Hidayah datang pada siapapun, kapanpun, dimanapun, dan
dalam kondisi apapun. Dalam setiap kasus-kasus hukum pasti akan berdampak
psikologis pada orang-orang yang terjerat di dalamnya, karena terjadi konflik
mulai dari tataran interpersonal hingga intrapersonal. Konflik yang tidak dapat
dikuasai akan mengakibatkan stress pada individu. Stres sebagai fenomena
psikofisik dapat memberikan pengaruh baik positf maupun negatif, tergantung
bagaimana stres itu dikelola. Sebagai sebuah pengalaman yang disadari lalu
diambil hikmah atau malah menjadi pemicu depresi hingga psikosomatis seperti insomnia,
migrain, mag akut, tekanan darah tinggi, hingga stroke. Sehingga tak ayal
banyak orang yang terseret kasus hukum tiba-tiba terserang penyakit fisik
padahal tidak memiliki riwayat penyakit tersebut sebelumnya.
Fenomena hijab yang dikenakan oleh orang-orang yang
terseret kasus hukum ini, bisa dianggap sebagai defense mechanisms dari konflik
psikologis individu yang mengalami stres. Mungkin itulah kenapa Karl Marx
menyebut agama sebagai candu dan memiliki unsur ekstasi. Menurut para psikolog
dalam buku Personality Psychotherapy (Wilcox : 2001) ada 2 orientasi religius,
yakni : ekstrinsik, yang menyediakan status dan rasa aman; serta intrinsik yang
berisi internalisasi, integrasi, yang menjadi pribadi holistik pada individu.
Dalam kasus ini orientasi ekstrinsik-lah yang ingin dicapai dari ketidak-amanan
dan ketidak-nyamanan. Selain itu merupakan upaya menarik simpati publik melalui
identitas diri sebagai individu yang juga memiliki simbol religiusitas, atau
hanya sekedar menutupi wajah dari sorotan publik dengan kain lebarnya. Walaupun
toh dalam beberapa kasus riwayat diri pemakaian fashion theologis tersebut
hanya saat terjerat kasus hukum saja.
Konspirasi Pelecehan Simbol Agama
Mencoba memahami “pelaku” dalam prespektif humanistik
oleh masyarakat teryata tidak dapat diterima begitu saja saat realitas itu
berulang dilakukan oleh hampir setiap orang-orang yang terjerat kasus hukum
serupa. Apalagi simbol-simbol theologis adalah hal sensitif yang akan menarik
pada politik sektarian. Fenomena (baca : stimulus) yang berulang tersebut
menjadi sebuah reinforcement (penguatan) dalam memori masyarakat bahwa ada
konotasi terhadap simbol tertentu. Akhirnya muncullah prasangka (prejudice)
yang menjadi aspek destruktif perilaku manusia.
Realitas-realitas tersebut seolah menunjukkan, “saya
muslim!” yang terseret dalam berbagai kasus hukum. Belum lagi didukung oleh
berbagai kasus yang semakin menyuramkan simbol-simbol theologis, seperti muslim
fundamentalis yang dikonotasikan teroris, kasus korupsi oleh Parpol berlabel
Islam yang selalu menyerukan halal-haram, dll. Seolah itu serangan bertubi-tubi
semakin merendahkan Islam & simbol-simbolnya yang dilakukan oleh
penganutnya sendiri. Hal ini bisa menjadi bahan menarik yang bisa dimainkan
oleh pihak-pihak yang “benci” terhadap Islam. Yang membahayakan apabila
konspirasi prejudice tentang fashion theologi ini menjadi sebuat steorotype,
bukan sekedar apatisme bahkan hingga ke praktek-praktek diskriminatif pada
simbol agama.
Sangat wajar apabila terdapat beragam persepsi yang
muncul dari “pemakluman” kemanusiaan hingga kekhawatiran adanya bangunan
konspirasi pelecehan simbol agama dari fenomena fashion theologis yang
ditampilkan di publik oleh orang-orang yang terjerat kasus hukum tersebut.
Karena fashion (pakaian) merupakan cara yang paling signifikan dalam
mengkonstruksi realitas dan relasi sosial.
Semoga jilbab yang dipakai itu bukan sekadar menjadi
orientasi ekstrinsik, namun juga sebuah orientasi intrinsik yang menjadi awal
dari taubatan nasuha. Rasa penyesalan yang bukan sekedar tampak dengan
penampilan penuh derita tapi upaya perbaikan yang tak melecehkan simbol-simbol
agama sebagai kedok defense mekanisme atas diri yang malah merasa terzalimi
oleh hukum yang ditegakkan. Semoga fenomena ini bukanlah kedok yang berujung
pada konspirasi pelecehan simbol agama. Jalan awal proses perubahan atas
penyesalan untuk profil muslim yang bertanggungjawab, sebagai upaya kontributif
perubahan yang lebih baik untuk nusa dan bangsa.
*) Danik
Eka Rahmaningtiyas, Departemen Kader Pimpinan Pusat Nasyiatul
Aisyiyah Mahasiswa Pascasarjana Psikologi Terapan Universitas Indonesia.
(asy/asy).
(asy/asy).













